
|
 |
Trading Trend atau Range?
5 Mei 2009,
Andre |
Dalam perdagangan saham, futures, opsi atau FX, para pelaku pasar menghadapi satu pertanyaan paling penting yaitu perdagangan trend atau range? Dan mereka menjawab pertanyaan ini dengan menilai lingkungan harga, hal tersebut sangat akurat untuk meningkatkan peluang keberhasilan. Trend atau range adalah dua hal penting yang sering bertentangan dengan pemikiran dan teknik manajemen keuangan. Untungnya, pasar FX cocok untuk mengakomodasi kedua gaya ini, trend dan range menyediakan berbagai peluang bagi pelaku pasar untuk memperoleh keuntungan.
Trend
Identifikasi paling sederhana dari arah trend adalah higher lows pada uptrend dan lower highs pada downtrend. Definisi trend sebagai deviasi dari range diindikasikan dengan Bollinger Band. Trend harga terjadi ketika ada suatu kemiringan ke atas atau ke bawah dalam periode 20 simple moving average (SMA).
Apapun cara mendefinisikannya, tujuan perdagangan adalah sama yaitu mengikuti arah pergerakan dan memegang posisi sampai trend reversal. Dasar pemikiran dari pelaku pasar adalah "Aku benar atau saya keluar?" Taruhan yang dipasang oleh semua pelaku pasar membuat harga bergerak ke arah yang baru, jika tidak maka disitu lah ada sedikit alasan untuk menahan posisi perdagangan. Karena itu, pelaku pasar melakukan perdagangan dengan tipikal stops ketat dan sering kali melakukan banyak percobaan penyerangan dengan tujuan untuk mendapatkan posisi masuk yang tepat.
Secara alami, perdagangan cenderung menghasilkan lebih banyak kekalahan dari pada kemenangan dan membutuhkan pengawasan resiko yang ketat. Aturan yang praktis adalah perdagangan harus memiliki resiko tidak lebih dari 1.5-2.5% dari modal mereka pada suatu perdagangan. Pada 10.000 unit (10K) rekening perdagangan lots standart 100K, berarti stop price paling kecil 15-25 pips di belakang harga masuk. Jelasnya, dalam mempraktekkan sebuah metode, pelaku pasar harus memiliki keyakinan bahwa pasar diperdagangkan dengan sangat likuid.
Tentu saja pasar FX adalah pasar yang paling likuid di dunia. Dengan US $1.6 triliun omset rata-rata harian, ukuran pasar mata uang jauh lebih besar dari pasar saham dan obligasi. Selain itu, pasar perdagangan FX 24 jam sehari dan lima hari seminggu, menghilangkan banyak gap resiko yang ditemukan di pasar exchange. Tentu saja kadang-kadang terjadi gap di pasar FX, namun tidak sesering pasar saham atau obligasi.
Leverage tinggi adalah keuntungan besar jika pelaku pasar menempatkan perdagangan yang benar. Dinamika ini adalah benar khususnya di pasar FX dimana leverage melipatgandakan keuntungan. Ciri khas leverage di pasar FX adalah 100:1, yang berarti bahwa pelaku pasar hanya perlu meletakkan $1 untuk mengendalikan margin $100 dari mata uang. Bandingkan dengan pasar saham dimana leverage biasanya ditetapkan 2:1, atau bahkan di pasar futures lainnya yang hanya menempatkan leverage tidak lebih dari 20:1.
Ini bukan hal yang tidak biasa, ketika melihat gaya perdagangan pelaku pasar FX untuk melipatgandakan uang mereka dalam jangka waktu singkat jika mereka mendapatkan pergerakan yang kuat. Misalnya pelaku pasar mulai dengan $10.000 di rekeningnya, dan menggunakan aturan stop loss yang ketat 20 pips. Para pelaku pasar mungkin akan mendapatkan stop price lima atau enam kali, namun jika dia mendapatkan posisi yang tepat untuk pergerakan yang besar, seperti EUR/USD antara September dan Desember 2004 ketika pasangan tersebut melonjak hingga 12 sen atau 1200 pips. Disitu pembelian satu lot dapat menghasilkan keuntungan $12000, melipatgandakan saldo rekening dalam hitungan bulan.
Tentunya ada beberapa pelaku pasar yang disiplin untuk menempatkan stop loss. Sebagian besar pelaku pasar patah semangat dengan serangkaian perdagangan yang buruk, sehingga cenderung menjadi keras kepala dan melawan pasar, seringkali tidak menempatkan stops sama sekali. Disaat ini leverage dapat menjadi sangat berbahaya. Proses yang sama bahwa untuk menghasilkan keuntungan dapat menimbulkan kerugian besar. Hasil akhir adalah bahwa pelaku pasar yang tidak disiplin menderita dengan sebuah margin call dan mendapatkan kerugian melebihi modal spekulatif mereka.
Perdagangan dengan kedisiplinan dapat menjadi sangat sulit. Jika pelaku pasar menggunakan leverage tinggi dia meninggalkan sedikit ruang untuk kesalahan. Perdagangan dengan stops ketat dapat mengakibatkan 10 atau bahkan 20 stop price yang berturut-turut, sebelum pelaku pasar menemukan momentum dan arah yang kuat.
Untuk alasan ini banyak pelaku pasar memilih untuk perdagangan dengan strategi range-bound. Perlu diingat bahwa ketika Saya berbicara tentang ‘perdagangan range-bound' Saya tidak mengarah ke definisi klasik kata 'range'. Perdagangan dalam suatu lingkungan harga membatasi perdagangan mata uang dalam channels, menjual pada level top dari channel dan membeli pada bottom channel. Strategi ini dapat menjadi sangat berharga, namun pada dasarnya ia masih menjadi gaya yang berbasis ide, walaupun dengan antisipasi sebuah countertrend terdekat.
Range
Para pelaku pasar dengan mengunakan range tidak peduli pada arah. Dengan asumsi bahwa perdagangan dengan range tidak mempermasalahkan perjalanan mata uang, karena akan kembali ke titik asal. Pada kenyataannya, pelaku pasar range bertaruh pada kemungkinan bahwa harga akan bergerak pada tingkat yang sama dan tujuan pelaku pasar adalah untuk mengambil keuntungan pada volatilitas range yang berulang-ulang.
Secara jelas perdagangan range memerlukan teknik manajemen keuangan yang berbeda. Meskipun hanya mencari posisi masuk yang tepat, pelaku pasar range lebih memilih untuk salah pada permulaannya, sehingga mereka dapat membangun sebuah posisi perdagangan.
Sebagai contoh, bayangkan bahwa EUR/USD diperdagangan di 1.3000. Pelaku pasar range mungkin akan memutuskan untuk short pasangan mata uang pada harga tersebut dan setiap 50 pips lebih tinggi, dan kemudian membeli kembali pergerakannya setiap 25 pips ke bawah. Dengan asumsi bahwa jika pasangan mata uang akhirnya akan kembali ke tingkat 1.3000 lagi. Jika EUR/USD naik ke 1.3500 dan kemudian terpukul mundur ke 1.3000, range akan memanen keuntungan yang besar, terutama jika mata uang yang bergerak bolak-balik naik ke 1.3500 dan turun ke 1.3000.
Namun, seperti yang dapat kita lihat dari contoh ini pelaku pasar range-bound akan membutuhkan lebih banyak modal untuk menerapkan strategi ini. Dalam hal ini leverage yang besar dapat menjadi sangat efektif sejak posisi mendapatkan pergerakan poin yang banyak dan jika ia tidak hati-hati, strategi ini dapat memicu margin call sebelum mata uang berbalik kembali.
Kesimpulan
Ketika seorang pelaku pasar ingin mendapatkan ayunan dengan mencoba menangkap trend yang kuat dengan leverage yang besar atau memukul dengan strategi range dalam lot kecil, pasar FX cocok untuk kedua pendekatan strategi ini. Selama pelaku pasar disiplin mengenai kerugian yang pasti terjadi dan memahami berbagai skema manajemen keuangan yang terlibat dalam setiap strategi, ia tetap memiliki kesempatan sukses dalam pasar ini.
Sumber: www.investopedia.com |
|
|
|
|